Senin, Februari 19, 2018
Home > Headline > Bangun Pendidikan dengan Pendekatan Humanis

Bangun Pendidikan dengan Pendekatan Humanis

Untuk membuat sekolah nirkekerasan di Indonesia harus dengan berbagai metode dan pendekatan. “Tidak bisa satu metode karena sekolah di Jawa berbeda dengan di luar Jawa,” ujar mantan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan, Prof Suyanto, pada acara Bedah Buku ‘Sekolah Nir Kekerasan’, di Aula Masjid Syuhada, Yogyakarta, Sabtu (31/12).

Karena itu dia mengapresiasi Buku ‘Sekolah Nir Kekerasan’ yang isinya berisi tentang aktivitas sejumlah sekolah nirkekerasan yang dikumpulkan dari  berbagai negara antara lain Australia, Inggris, Norwegia, dan Indonesia. Buku tersebut ditulis oleh Novi Candra dan kawan-kawan.

Menurut Suyanto, di Indonesia perlu perjuangan yang luar biasa untuk melawan kekerasan di sekolah. Karena itu buku ‘Sekolah Nir Kekerasan’ ini memberi mozaik sekolah yang mengutamakan perdamaian dan antikekerasan.

Di Indonesia, kekerasan yang terjadi di sekolah itu terkait dengan kultur. Sebenarnya budaya seperti itu bisa dihindari dengan memberi peluang kepada guru tentang bagaimana menerapkan sekolah nirkekerasan.

“Saya optimistis apa yang di cita-citakan Bu Novi (penulis buku ‘Sekolah Nir Kekerasan’ sekaligus penggagas ‘Gerakan Sekolah Menyenangkan’-Red) bisa tercapai, tetapi tidak bisa dalam jumlah banyak,” tuturnya.

Hal ini juga diakui oleh salah seorang peserta diskusi buku, Galuh Ajeng Oka Bimala. “Saya optimistis Indonesia bisa berubah karena saya punya pengalaman  terhadap murid-murid saya.  Dengan menerapkan Gerakan Sekolah Menyenangkan yang disampaikan oleh Bu Novi Candra dan Pak Muhammad Nur Rizal, anak-anak  di  SD Muhammadiyah Sidoarum memiliki kemampuan di luar yang kami impikan. Padahal sebelum mengikuti kegiatan ‘Gerakan Sekolah Menyenangkan’ saya sempat putus asa dengan perilaku anak-anak,” ungkap guru SD Muhammadiyah Sidoarum ini.

Pada kesempatan ini Novi mengungkapkan sudah saatnya membangun pendidikan mulai dari cara berpikir anak-anak. Untuk itu harus ada perubahan besar dengan pendekatan yang humanis, bukan  reward and punishment.  Untuk melakukan perubahan, kata dia, harus dimulai dari diri sendiri. “Carilah teman sebanyak-banyaknya lalu bergabung dengan sekolah menyenangkan untuk bertukar praktik yang baik,” ujarnya.

 

 

sumber: Republika Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *