Home > Hikmah > Ini Amalan Khusus dan Larangan di Hari Jumat

Ini Amalan Khusus dan Larangan di Hari Jumat

DI samping salat Jumat dan seluruh rangkaian ibadah yang menyertainya, ada beberapa amalan yang disyariatkan untuk dikerjakan pada hari Jumat, di antaranya.

1. Memperbanyak salawat atas Rasulullah shallallahu alaihi wassalam

Hal ini berlandaskan hadis Nabi shallallahu alaihi wassalam,

“Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling mulia adalah hari Jumat. Karena itu, perbanyaklah bersalawat kepadaku pada hari itu karena salawat kalian akan ditampakkan kepadaku.” (HR. Abu Dawud dalam as-Sunan no. 1528 dari Aus bin Aus radhiyallahu anhu. An-Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin menyatakannya shahih)

2. Membaca surat al-Kahfi pada malam Jumat dan siang harinya

Landasannya adalah atsar Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu, beliau berkata,

“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat, akan bersinar baginya cahaya antara dirinya dan Baitul Haram.” (Riwayat al-Baihaqi dalam asy-Syuab dan dinyatakan shahih oleh al-Allamah al-Albani dalam Shahih al-Jami)

Atsar tersebut juga datang dengan lafadz yang lain, “Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat maka akan bersinar baginya cahaya antara dua Jumat.” (Riwayat an-Nasai dalam Alyaum Wallailah, dan asy-Syaikh al-Albani menyatakan shahih dalam Shahih at-Targhib no. 735)

Adapun hadis yang menyebutkan,”Barangsiapa membaca (surat) Yasin pada suatu malam, ia berada di pagi hari dalam keadaan telah diampuni. Barangsiapa membaca (surat) ad-Dukhan pada malam Jumat, ia berada di pagi hari dalam keadaan telah diampuni,”adalah hadis palsu. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi rahimahullah dalam al-Maudhuat. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Ad-Daruquthni berkata, Muhammad bin Zakaria (perawi hadis ini) memalsukan hadis.” (Lihat kitab Ahaditsul Jumuah hlm. 131)

3. Disunahkan membaca surat as-Sajdah dan ad-Dahr (al-Insan) pada salat subuh di hari Jumat

Hal ini berlandaskan hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam membaca pada salat Subuh di hari Jumat “Alam tanziil” (surat as-Sajdah) dan “Hal ataa alal insaan” (surat ad-Dahr). (Shahih al-Bukhari no. 891)

Disebutkan bahwa hikmah disyariatkannya membaca dua surat ini karena keduanya mengandung isyarat tentang penciptaan Adam yang terjadi pada hari Jumat dan adanya isyarat tentang kondisi hari kiamat yang akan terjadi pada hari Jumat. (lihat Fathul Bari 2/379)

Larangan-larangan pada hari Jumat

1. Dilarang mengkhususkan malam Jumat dengan salat malam

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda,

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat untuk salat malam di antara malam-malam yang ada.”

2. Larangan mengkhususkan puasa pada siang harinya

Nabi shallallahu alaihi wassalam bersabda,

“Janganlah kalian mengkhususkan hari Jumat dengan puasa di antara hari-hari yang ada kecuali (bertepatan) dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang dari kalian.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Demikian pula hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Janganlah salah seorang kalian puasa di hari Jumat kecuali (bersama) sehari sebelumnya atau setelahnya.” (Muttafaqun alaih)

Adapun hikmah dilarangnya puasa pada hari Jumat karena pada hari itu disyariatkan memperbanyak ibadah, yaitu zikir, doa, tilawah Alquran, dan salawat atas Nabi shallallahu alaihi wassalam. Oleh karena itu, seseorang dianjurkan tidak berpuasa agar bisa menopang terlaksananya amalan-amalan tersebut dengan semangat tanpa kebosanan.

Hal ini sama dengan jemaah haji yang wukuf di Padang Arafah yang disunahkan tidak berpuasa karena hikmah tersebut.

Ada pula ulama yang menyebutkan hikmah yang lain, yaitu karena hari Jumat adalah hari raya, dan pada hari raya tidak boleh berpuasa.

Demikian pula di antara hikmahnya adalah untuk menyelisihi orang-orang Yahudi karena mereka mengkhususkan hari raya mereka untuk puasa. Wallahu alam. (Diringkas dari kitab Ahaditsul Jumuah hlm. 47-48) [Al-Ustadz Abdul Muthi, Lc.]

Sumber: Majalah Asy Syariah no. 82/VII/1433 H, hal. 12-13./Mozaik Inilah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *