Minggu, Desember 17, 2017
Home > Info Haji dan Umrah > Ini Kisah Nuryadin, Tukang Gali Kubur Naik Haji

Ini Kisah Nuryadin, Tukang Gali Kubur Naik Haji

Nuryadin (59 tahun) menangis saat hendak mengawali ceritanya. Ia mengucap syukur, atas nikmat yang diberikan padanya. Ia bisa berangkat haji tahun ini.

“Saya ingat perjuangannya, setiap hari berdoa terus berdoa semoga bisa naik haji. Alhamdulillah terkabul,” ungkap Nuryadin saat dijumpai Republika usai mengikuti pembekalan ibadah haji yang diselenggarakan Kementrian Agama Surakarta di Dana Hotel, akhir Juli lalu.

Penuh lika-liku, Nuryadin berjuang mewujudkan mimpinya pergi ke Tanah Suci. Nurdin bukan berasal dari keluarga kaya. Hidupnya pun sederhana. Namun tekadnya untuk menunaikan rukun Islam ke lima begitu kuat.

Bertahun-tahun, ayah dua anak itu memendam keinginannya bisa beribadah haji. Ia tahu tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa datang ke Baitullah. Sementara penghasilan yang diperoleh, boleh dibilang hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Sehari-harinya Nuryadin berprofesi sebagai petugas kebersihan dan jasa gali kubur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Benoloyo, Banjarsari. Pemakaman itu berjarak tak jauh dari tempat tinggalnya di Banyuanyar RT 1/5 Banjarsari, Surakarta.

Penghasilannya tak menentu, tergantung pada keikhlasan keluarga jenazah yang memberi upah usai menggunakan jasanya menggali kuburan. Terkadang ia diberi upah Rp 50 ribu, 25 ribu, kadang pula Rp 10 ribu.

“Kalau tidak ada yang meninggal, ya tidak bawa uang ke rumah, nanti saya usaha lain bantu-bantu kalau disuruh-suruh warga apa saja,” katanya menerangkan.

Sementara, istrinya Sri Maryani (45 tahun) hanya sebagai ibu rumah tangga. Sri berjualan tabung gas 3 kilogram, meski hanya 10 buah saja. Keluarga Nuryadin ingin hidup sederhana. Urusan makan, kata dia, yang terpenting cukup ada nasi dengan lauk seadanya.

Beberapa tahun lalu, Nuryadin memang bekerja di Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surakarta. Dulu pun ia bertugas menjaga kebersihan di TPU Benoloyo. Namun kini ia sudah pensiun.

Uang pensiunannya digunakan untuk membiayai sekolah dua anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sisanya untuk kebutuhan sehari-hari. Setelah pensiun, ia pun terus melakoni profesinya itu. Ia mengaku telah jatuh hati dengan pekerjaannya.

Meski begitu niatnya untuk pergi ke Tanah Suci terus ia jaga, semakin hari bahkan semakin kuat. Terlebih jika melihat tetangganya menunaikan haji atau umrah.

Ia paling getol menjadi pendamping jamaah, mengantar hingga ke asrama haji Dono Hudan Surakarta. Bagi dia hal itu menjadi sebuah keyakinan, suatu saat ia akan diantar warga lainnya saat akan melaksanakan ibadah haji.

Bukan sebatas mimpi. Nuryadin pun mencoba mewujudkannya dengan menyisihkan Rupiah demi Rupiah, hasil dari kerja kerasnya tiap hari. “Ada lebih seribu saya tabung, berapapun saya paksakan bisa sisihkan,” ungkapnya menjelaskan.

Makin lama, tabungan hajinya semakin banyak. Meski belum cukup untuk mendaftarkan dirinya sebagai calon jamaah haji. Kata dia biaya untuk daftar haji per orang sebesar Rp 34,6 juta.

Hingga, warga mengajak Nuryadin untuk menggunakan uang tabungannnya itu mengikuti arisan haji. Sebuah kesempatan, ia pun mencobanya. Separuh tabungannya digunakan Nuryadin untuk arisan putaran pertama, separuhnya ia infaqkan ke masjid.

Alhamdulillah, saya bersyukur saya ada kesempatan,” Entah, Nuryadin tiba-tiba teringat istrinya. Ia ingin istrinya merasakan kebahagiaan yang sama, bisa berangkat haji.

“Saya tidak boleh sebut namanya, tapi orang itu bantu, berangkatkan kami ke Tanah Suci,” ucap Nuryadin teringat sosok yang ikhlas memberikan bantuan cuma-cuma agar istrinya bisa mendampinginya beribadah haji. “Ia cuma ingatkan saya rajin sedekah,” tambahnya.

Nuryadin dan Sri Maryani akhirnya bisa mendaptarkan diri sebagai calon jamaah haji pada 2011. Ia sempat dikabarkan berangkat haji 2015 namun mundur hingga terlaksana tahun ini. Mereka menjadi sepasang suami isti yang akan diberangkatkan bersama 405 calon jamaah haji lainnya asal Surakarta.

Nuryadin dan istrinya akan terbang pada 15 Agustus. Selama 40 hari mereka akan berada di Arab Saudi. Sementara itu, menurut Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Surakarta, Rosyid Ali Safitri, untuk kesiapan Jamaah pihaknya telah memberi pembekalan materi-materi seputar Ibadah haji baik ditingkat kecamatan dan kota.

Selain itu agar tetap prima dalam beribadah ia meminta agar calon jamaah setiap harinya rutin melakukan olah raga. Jamaah akan kembali dites kesehatan pada 14 Agustus atau sehari sebelum pemberangkatan.

“Secara keseluruhan semuanya sehat, satu orang meninggal karena sakit, satu orang lagi sedang dirawat. Sehingga total kloter 16 ini sebanyak 407 orang. Kami berharap jamaah yang sakit bisa segera sembuh dan melanjutkan persiapan,” tuturnya.

Kloter 16  calon jamaah asal Surakarta yang akan diberangkatkan itu, kata dia, akan didampingi petugas bimbingan ibadah, petugas medis, dan petugas daerah. Sementara untuk pemberangkatan tahap dua, kata dia, jamaah haji asal surakarta sebanyak 51 orang.

Mereka akan bergabung dengan jamaah asal daerah lainnya seperti Banjarnegara 27 orang, Sukoharjo 96 orang, Wonogiri 50 orang dan Boyolali 131 orang. Pemberangkatan tahap dua ini akan berlangsung pada 29 Agustus. ”Semoga Nuryadin dan jamaah haji lainnya menjadi haji mabrur,” ujar Rosyid Ali Safitri mendoakan.

 

sumber: Republika Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *