Home > AlQuran dan Hadist > Keutamaan Menyantuni Anak Yatim

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim

Dalam Islam ibadah menyantuni anak yatim mendapat kedudukan yang tinggi dan terhormat. Setidaknya ada tiga kemuliaan bagi sang penyantun anak yatim.

TIGA KEMULIAAN

Pertama, bersanding bersama Nabi Muhammad SAW di akhirat kelak. Siapa yang tidak ingin mendapatkan kedudukan yang dekat dengan beliau? Tentu setiap kita ingin meraihnya. Banyak orang yang bersusah payah untuk bertemu dengan artis pujaannya. Uang yang banyak tidak menjadi masalah dan bukan halangan demi memuaskan kerinduan berjumpa dengannya. Padahal, belum tentu artis yang bersangkutan mau kenal dan dekat dengannya apalagi bisa membantunya di akhirat.

Seorang muslim yang mengidolakan Nabi Muhammad pasti akan rela berkorban apa saja. Harta, waktu, dan tenaganya akan dikerakan demi bisa dekat dengan beliau. Dengan dekat kepada beliau, maka kita akan menjadi hamba yang bahagia dan mendapatkan syafaatnya.

Menyantuni anak yatim menjadi tiket masuk ke dalam surga sebelum akhirnya kita bisa duduk berdekatan dengan nabi. Rasulullah SAW telah bersabda : “Aku dan orang yang mengasuh/menyantuni anak yatim di surga seperti ini.” Kemudian beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya (HR. Bukhari).

Tidakkah kita ingin dekat dengan Nabi? Beruntung seseorang yang memanfaatkan harta dan kekayaannya untuk berbagi kepada anak yatim yang hidupnya kesepian karena ditinggal wafat oleh orang tuanya. Sungguh sangat bahagia seorang dermawan yang sadar akan betapa mulianya orang yang menyantuni anak yatim. Karenanya, jangan sia-siakan. Manfaatkan dengan sebaik-baiknya agar kemuliaan itu tidak hilang dari diri kita.

Kedua, melunakkan hati dan menyebabkan terpenuhi hajat. Hati yang mengeras karena penyakit yang bersarang di dalamnya dapat berubah drastis menjadi lembut dengan menyantuni anak yatim. Hati yang gemuruh penuh sesak dengan beragam kotoran sebagai akibat hidup yang penuh pikiran-pikiran picik dan licik dapat sedikit demi sedikit terobati, salah satunya, dengan melakukan santunan kepada para yatim.

Diriwayatkan dari Abu Darda` yang berkata, “Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW mengeluhkan hatinya yang keras. Nabi pun bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu suka, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi?’ Kasihilah anak yatim, usaplah kepalnya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu menjadi terpenuhi.” (HR. Thabrani).

Jika seseorang mampu memposisikan diri sebagai ayah yang secara naluri sayang dan cinta kepadanya, lalu hal yang sama ia terapkan kepada anak yatim dengan memberi makan, membantu dan menyantuninya, maka terhimpun di dalam hatinya sarana-sarana yang bisa melembutkan hati, membasahi jiwa yang gersang, dan melunakkan nurani yang kaku.

Selain itu, menyantuni anak yatim menyebabkan hajat kehidupan mudah terpenuhi. Inilah janji Allah SWT yang disampaikan oleh Nabi SAW. Ini tentu di luar logika akal manuia pada umumnya. Secara lahir, harta yang kita keluarkan berkurang dengan menyantuni anak yatim. Namun sekali lagi ini di luar logika kita. Allah Maha Menepati janji-Nya dan tidak sekalipun melanggar janji-Nya.

Ketiga, meraih pahala salat sepanjang malam. Bangun setiap malam untuk salat dan ibadah lainnya, bagi sebagian kita, hal yang sulit. Rasa lelah dan capek kerap menjadi alasan kita berat untuk bangun malam. Belum lagi kendala-kendala lainnya, seperti udara dingin, rasa kantuk yang hebat, dan sebagainya. Rasa-rasanya, hanya Nabi Muhamad SAW yang sanggup bangun di tiap malam. Bagi beliau, bangun malam untuk ibadah adalah kewajiban.

Namun, ada kesempatan yang terbuka lebar untuk bisa mendapatkan pahala salat sepanjang malam. Amalan itu adalah menyantuni anak yatim. Inilah kesempatan emas yang dibuka lebar oleh Allah bagi siapa saja yang ingin menambah amal kebajikan dalam hidupnya. Inilah bentuk kasih sayang dan perhatian Allah kepada hamba-hamba-Nya. Rasulullah SAW telah bersabda, “Siapa yang menafkahi tiga anak yatim, maka seperti mengerjakan ibadah sepanjang malam.” (HR. Ibnu Majah).

Dari hadits tersebut, jika kita hitung secara matematis, menyantuni anak yatim selama sebulan, maka kita mendapat pahala selama satu bulan. Jika menyantuni anak yatim selama satu tahun atau bahkan lebih, berapa pahala Tahajud yang kita peroleh? Ringkasnya, selama seseorang menyantuni anak yatim, selama itu pula ia mendapatkan pahala tahajud sepanjang malam.

Tidak ada yang tahu kapan kita meninggalkan alam yang fana ini. Sebelum ajal tiba, sebelum matahari terbit dari barat, mari kita manfaatkan kesempatan yang luar biasa ini.

 

 

 

Oleh : Ali Akbar bin Aqil

sumber: Kiblati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *