Home > Hikmah > Kisah Kasih Sejati Nenek Meliah Md. Diah

Kisah Kasih Sejati Nenek Meliah Md. Diah

kisah-ibu-dengan-anak-penyandang-disabilitas-84x
Neneh Meliah Dan Anaknya Abdul

Gambar itu sungguh menggetarkan hati. Seorang perempuan, memakai hijab panjang berwarna hitam, baju panjang bercorak merah, tampak tersenyum bahagia. Kerutan di wajahnya memperlihatkan ia tak lagi muda.

Lekukan keriput di wajahnya tak memadamkan nyala matanya yang berbinar bangga. Ia menempelkan lengan dan wajahnya dengan penuh rasa sayang ke wajah seorang pria yang tak lagi muda yang tengah terbaring.

Pria itu tak melihat kamera. Ia hanya menatap ke atas dengan wajah kosong. Tapi ia juga tersenyum, seolah tahu betapa dia dicintai.

Wajah pria itu juga sudah mulai keriput. Uban sudah memenuhi rambut, alis, dagu, dan bagian atas bibir. Ia mengenakan kaus biru. Tangannya terlihat tak bisa menggengam secara normal.

Gambar itu adalah gambar sang ibu dan anaknya. Usia mereka sudah sama-sama menua. Sang ibu sudah berumur 101 tahun. Sedang anaknya 63 tahun.

Tentu, tidak mudah bagi seorang ibu menghadapi kenyataan memiliki anak yang ‘spesial’ atau biasa disebut memiliki kebutuhan khusus. Namun, rasa kasih dan sayang terhadap darah daging yang dikandung selama sembilan bulan, mampu menguatkan hati sang ibu.

Inilah yang dialami Meliah Md Diah, perempuan berusia 101 tahun asal Kampung Bukit Nambua, Kuala Nerang, Malaysia. Dia bertahan dalam usianya yang sudah sangat senja untuk mengurus anak bungsunya, Abdul Rahman Saud, 63 tahun, yang merupakan penyandang disabilitas.

Selama 63 tahun, Meliah merawat Abdul dengan sabar dan penuh kasih sayang. Dia telah berjanji pada dirinya, selama dirinya masih hidup dia akan memberikan yang terbaik bagi anaknya yang terlahir dengan kondisi tidak mampu berbicara, berjalan, dan menjalani hidup normal.

“Anak saya bukanlah beban bagi saya. Dari bayi, saya mandikan, pakaikan baju, suapi makan,” ujar Meliah seperti dikutip dari Bernama, Jumat, 22 Mei 2015.

Menurut Meliah, tidak ada rasa penyesalan memiliki anak penyandang disabilitas seperti Abdul.

Dia telah menerima nasibnya dengan lapang dada. Dia hanya berdoa pada Allah SWT untuk diberi kesehatan dan umur panjang agar bisa terus merawat anaknya.

“Saya akan merawatnya selamanya. Saya mencintainya, dan hanya ingin bersamanya,” tuturMeliah tulus.

 

 

Meliah Berjuang untuk Menghidup Anaknya

Sebenarnya bukan keinginan Meliah untuk mengasuh anaknya seorang diri hingga usianya sudah sesenja ini. Namun, takdir Tuhan berkata lain.

Tuhan telah lebih dulu memanggil suaminya 20 tahun lalu. Juga tiga kakak Abdul –2 anak laki-laki dan seorang perempuan– meninggal pada usia muda. Itu membuat perempuan tua itu harus menanggung hidupnya dan Abdul di pundaknya sendiri.

Meski demikian, Meliah tidak sepenuhnya hidup sebatang kara. Masih ada sanak famili yang turut menjaga mereka. Seperti Siti Jaleha Yunus, 59 tahun, cucu dari keponakan Meliah.

Menurut Siti Jaleha, kerabat lain bergiliran membantu Meliah dan Abdul. Tidak jarang para kerabat mengantar makanan untuk mereka atau sekadar memeriksa keadaan ibu dan anak itu.

Siti Jaleha menyatakan kisah hidup neneknya itu merupakan contoh yang sangat patut diteladani dan bukti pengorbanan seorang ibu kepada anaknya. Sebuah bukti kasih ibu sepanjang masa.

Ditambahkan Siti Jaleha, saat ini kondisi neneknya sudah sangat rapuh dengan kemampuan mengingat yang kian melemah akibat penuaan. Namun, Meliah tidak pernah lupa nama anaknya. Tubuhnya yang renta membuatnya tetap melakukan tugasnya sehari-hari untuk dirinya dan Abdul.

“Dia melakukan rutinitas itu setiap hari. Mengingatkan anaknya untuk makan dan mandi,” kisahnya.

Meliah tidak memiliki penghasilan. Hidupnya bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintahMalaysia. Ia mendapat sebesar RM 450 atau setara dengan Rp 1,6 juta dan RM 300 sekitar Rp 1 juta dari departemen sosial tiap bulannya.

 

 

Kisah Ibu dengan Anak Penyandang Disabilitas

Kisah Meliah ini memang bisa dijadikan teladan semua ibu, terutama ketika takdir Tuhanmenyatakan anak yang dikandung terlahir dalam kondisi ‘khusus’. Namun, kekuatan hati Meliahini tidak dimiliki oleh semua ibu dengan anak penyandang disabilitas.

Kasih Nenek Meliah memang amat kontras bila dibandingkan dengan Tania Clarence. Ibu asal Old Bailey, Inggris, ini justru tega membunuh ketiga anaknya hanya karena menyandang disabilitas. Tekanan jiwa yang dirasakan Tania membuat dirinya melakukan perbuatan keji terhadap anak kandungnya sendiri.

Bahkan, ada juga seorang ibu yang melakukan aborsi karena mengetahui anaknya akan terlahir cacat.

Pengalaman berat juga pernah dialami Dr Claire McCarthi, seorang dokter anak yang juga seorang ibu dari anak cacat. Kebetulan Dr Claire McCarthy merupakan dokter yang menangani anak berkebutuhan khusus.

Dia mengaku tidak jarang mendapati ibu-ibu dengan anak disabilitas dalam kondisi yang tidak terurus, bahkan tampak lebih tua dari usianya.

Hal ini, lanjut McCarthy, disebabkan pikiran mereka terkuras dan dirinya terlalu lelah untuk membesarkan anaknya. Menurutnya, kebanyakan ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus ini akan turun tangan mengurusi anaknya langsung.

Seperti isi kolomnya dalam Boston.com, McCarthy pun sempat berada pada posisi mereka dan merasakan betapa besarnya tekanan seorang ibu dengan anak penyandang disabilitas.

Tidak jarang dia marah dengan rasa empati yang disampaikan orang-orang sekitarnya dan ingin berteriak “Apakah dengan perkataanmu itu, Anak saya akan sehat?”. Namun, dia kemudian berpikir dan mulai menyikapi kondisinya dengan bijaksana.

McCarthy terus berpikir untuk mengurus anaknya dengan baik. Dia berikan rasa cinta dan kasih sayang. Dia pun akhirnya mensyukuri keadaan yang diberikan Tuhan kepadanya dan keberadaan anaknya yang telah memberikannya banyak pelajaran hidup.

Saat menyambut Hari Ibu Sedunia yang jatuh tiap tanggal 13 Mei, kisah kasih nenek Meliah Md Diah ini bukanlah kisah fiksi. Kasih ibu itu nyata. Ia hadir seperti oksigen yang senantiasa kita hirup. Usia juga tak membuat kasih sayang nenek Meliah pada anaknya menguap. Inilah kasih sayang sejati seorang ibu… (eh)

 

 

Sumber: Dream

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *