Home > Pendidikan Kita > Memaknai Pendidikan sebagai Pembinaan Keadaban

Memaknai Pendidikan sebagai Pembinaan Keadaban

2248764ADA banyak orang yang mengeluhkan mahalnya biaya pendidikan. Ibu dari salah seorang teman SMP saya yang saat ini jadi kuli bangunan berkata pada teman saya itu: “Coba saya tahu kamu akan jadi kuli bangunan, buat apa saya sekolahkan kamu sampai SMA. Andai biaya sekolahmu dulu saya belikan sapi, sudah berapa anak sapi yang sudah kita miliki.”

Sang ibu yang kerjanya jualan bunga dan kue desa di pasar ini begitu menyesal menyekolahkan anak. Tapi ibu ini tidak sendirian. Ada banyak ibu dan bapak wali murid yang bermadzhab sama dengannya dalam memaknai proses pendidikan.

Bagi madzhab ini, pendidikan adalah proses mendapatkan pekerjaan yang layak. Orang berpendidikan tinggi harus menjabat dengan jabatan tinggi dan terhormat. Uang yang dikeluarkan untuk biaya pendidikan harus kembali dan kalau bisa harus membawa untung.

Kisah nyata di atas bisa jadi terbaca sederhana, namun sesungguhnya menyuguhkan potret dunia pendidikan yang kompleks dan problematik. Pendidikan tidak lagi dimaknai sebagai proses pembinaan diri untuk menjadi manusia beradab dan bermartabat. Ia semata-mata dianggap tangga menuju jabatan dan pekerjaan. Karena itulah maka banyak sekali orang tua para sarjana siap menyuap berapapun asal sang anak mendapatkan pekerjaan.

Efek paling parah adalah ketika ilmu tak lagi menjadi penting dan yang penting adalah ijazah yang dianggap bukti sah telah lulus pendidikan. Maraklah sekolah dan lembaga pendidikan abal-abal lengkap dengan ijazah palsu. Ketika ijazah palsu berkolaborasi dengan suap, maka ia mampu mengalahkan ijazah asli tanpa suap. Ironis bukan?

Dampak negatif lainnya banyak sekali, mulai dari banyaknya pengangguran sampai pada aparatur yang tak punya keahlian. Bahwa pendidikan itu butuh biaya adalah fakta, tapi bahwa kebodohan karena tak berpendidikan itu bisa lebih memakan banyak biaya adalah juga nyata. Sekolahlah yang benar, kuliahlah yang benar dan bekerjalah yang benar. Salam, AIM@Campus Pascasarjana UINSA. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

 

Sumber: Inilah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *