Home > Blog > Menjadi Mulia dalam Profesi Sederhana

Menjadi Mulia dalam Profesi Sederhana

belajar-mengajiJejak-jejak langkah para pelawat satu per satu meninggalkan si ahli kubur. Keluarga yang kerap menemani kini tak lagi di sisi. Teman sejawat yang dulu riang bercengkrama memilih pulang meninggalkan dirinya.

Tak ada kawan dalam kesendirian di alam yang baru. Semuanya terputus. Masa tugasnya sudah selesai. Tak ada lagi waktu tambahan seperti pertandingan-pertandingan bola yang menjemukan itu. Sedetikpun ia tak dapat kembali guna mengumpulkan pundi-pundi bekal menuju kampung akhirat.

Tapi tunggu dulu. Ada sebuah kabar gembira dari lisan Nabi SAW yang mulia. Masih ada sesuatu yang ajaibnya secara otomatis mengisi perbendaharaan amal salehnya. Padahal tubuhnya sudah kaku dalam timbunan tanah.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.” (HR Muslim)

Ada tiga amal yang ia kerjaan saat masih hidup yang akan menolongnya. Silahkan pilih salah satu atau amat baik amalkan ketiganya. Hari ini kita akan menenggak sedikit hikmah soal mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Sesuatu yang kelak mungkin akan kita rindukan sebagai amal yang tak pernah terputus.

Ilmu nan bermanfaat beragam jenisnya. Namun ada satu ilmu yang disebut paling mulia. Ia adalah mengajarkan Alquran. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari pernah berkata, “Berdakwah ke jalan Allah bisa dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah mengajarkan  Alquran, dan ia adalah yang paling mulia.”

Orang yang mengajarkan Alquran adalah sebaik-baik manusia. Jika ia seorang guru maka ia sebaik-baik guru. Jika ia seorang ustaz maka ia sebaik-baik ustaz. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)

Tidakkah kita ingin menjadi pribadi yang terbaik? Menjadi juara dunia mungkin dinilai terbaik bagi orang-orang di dunia yang jumlahnya 7,3 miliar itu. Presiden RI mungkin dianggap orang terbaik dari 250 juta penduduk Nusantara. Namun parameter itu tidak berlaku di mata Rasulullah SAW.

Salah satu sebab seseorang menjadi yang terbaik, adalah dengan belajar Alquran lantas mengajarkannya. Mengajarkan Alquran menjadi elemen yang amat penting. Belajar Alquran tentu amat baik, tapi belum tentu yang terbaik jika ilmu Alquran yang kita dapat kita simpan rapat-rapat demi sebuah gelar ustaz.Belajar dan mengajarkan Alquran menjadi paket yang tak terpisahkan.

Maka mulialah mereka yang mengabdikan diri di surau-surau kecil mengajarkan kitab suci kepada anak-anak yang masih lugu. Mereka sejatinya sebaik-baik orang meski tak ada gaji bulanan yang mampir ke rekening jelang tanggal 30. Mereka yang mengajarkan ilmu nan bermanfaat karena berkat a, ba, ta, tsa..anak-anak itu kelak lancar membaca al-Fatihah dalam shalat mereka.

Dalam tiap rakaat anak-anak itu kelak, mengalir puluhan pahala kepada para guru ngaji itu. Bukankah Rasulullah SAW sudah bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR Muslim)

Betapa beruntungnya para guru mengaji yang serba ikhlas itu. Bagaimana mereka tidak ikhlas? guru mengaji bukanlah profesi yang harus repot melakukan sertifikasi demi tambahan gaji. Merekalah orang yang penuh kesadaran menginsyafi diri. Bisa jadi bekal mereka untuk pulang ke kampung akhirat amatlah kurang.

Maka mereka berlomba mengumpulkan pundi-pundi pahala dengan menebar ilmu yang amat bermanfaat. Sungguh mengeja satu huruf dalam Alquran begitu besar pahalanya. Nabi SAW bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Alquran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan Alif laam miim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR Tirmidzi)

Menjadi manfaat adalah tujuan hidup sebaik-baik manusia. Kalau terlampau berat mengajari anak-anak mengaji, minimal kita pastikan anak-anak kita bisa mengeja Alquran lewat lisan ayah ibunya.

 

Oleh Hafidz Muftisany

sumber: Republika Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *