Home > Blog > Rahasia Kebahagiaan Guru

Rahasia Kebahagiaan Guru

ribuan-guru-menghadiri-puncak-peringatan-hut-pgri-ke-70-_151213172041-237Ada pertanyaan menggelitik di tengah kemelut persoalan yang kerap mendera para guru, apa dan di mana rahasia kebahagiaan guru tersembunyi? Apakah sumber kebahagiaan guru berasal dari meruyaknya harta dan tingginya pangkat serta jabatan?

Firman Allah SWT, “Dan bermusyawarahlah kamu dengan mereka dalam segala urusan. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS al-Imran: 159).

Guru yang bertawakal adalah guru yang berbahagia. Buya Hamka pernah menyatakan jika seorang Mukmin telah bertawakal atau berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT maka terlimpahlah ke dalam dirinya sifat terhormat dan mulia yang ada pada-Nya.

Selain itu, orang bertawakal akan dilimpahi pengetahuan dan ilham dari Allah SWT yang mengantarkannya kepada meraih kebahagiaan dalam hidup.

Ada tiga simpul nilai tawakal yang harus diamalkan dan dimaknai guru dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya. Pertama, simpul nilai yang disebut azam. Azam mengandung makna kebulatan tekad yang diterapkan di dalam rencana dan ikhtiar yang sungguh-sungguh.

Contoh, ketika guru hendak mengajar maka guru harus menyiapkan rencana program pengajaran dan pembelajaran yang detail dan sistematis.

Setelah rencana program dirancang dengan sangat baik, guru bersungguh-sungguh melaksanakan dan memikul tanggung jawab sebagai pengajar seraya bertawakal kepada Allah SWT. Azam merupakan bagian tak terpisahkan dari sikap tawakal. Bahkan, tawakal menjadi cacat atau bisa gugur tanpa adanya azam.

Kedua, simpul nilai yang disebut ujian. Ujian atau cobaan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Sebab, pengakuan keimanan seorang guru belum dipandang cukup sebelum para guru akan mendapatkan ujian hidup (QS al-Ankabut: 2-3).

Apakah bentuk ujian itu? Allah SWT berfirman: “Kami akan menguji (iman) kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (iman) yang sebenar-benarnya.” (QS al-Anbiya: 35).

Guru bisa diuji dengan kebaikan seperti sehat lahir batin, banyak rezeki, lulus sertifikasi, punya jabatan, murid-muridnya pandai dan saleh, dan hal-hal baik lainnya.

Tak jarang pula ujian keburukan pun menimpa guru, seperti sakit, kurang rezeki, murid-muridnya nakal, jadi kambing hitam kegagalan sistem kebijakan pendidikan, dan hal-hal buruk lainnya. Tawakal adalah dasar dari keimanan dan semua amal.

Demikian juga iman dan amal tak dapat ditegakkan kecuali di atas dasar tawakal. Tawakal sendiri hanya bisa terwujud dalam diri seorang guru setelah imannya lulus dalam ujian (QS al-Ankabut: 3).

Ketiga, simpul nilai yang disebut sabar dan syukur. Sesungguhnya, ujian kelapangan hidup bagi seorang guru adalah bersyukur. Di sisi lain, ujian kesempitan hidup bagi seorang guru adalah kesabaran.

Banyak guru yang terbiasa hidup lapang dan senang ternyata tak bisa bersabar menjalani satu kesulitan hidup. Sebaliknya, banyak guru yang tangguh saat menghadapi ujian keburukan, tetapi malah tak berhasil atasi diri saat mendapatkan kejayaan hidup.

Guru yang memiliki sifat tawakal akan diberikan ketenangan dan ketenteraman hati. Ketenangan dan ketenteraman hati itu sendiri datangnya dari Allah SWT. Dan, Allah SWT hanya akan memberikannya kepada guru-guru yang telah meraih makam tawakal.

Guru bisa membeli kasur yang empuk, tapi tak akan pernah bisa membeli nyenyaknya tidur. Guru bisa membeli obat yang mahal, tetapi tak akan bisa membeli nikmatnya kesehatan.

Bagi guru yang bertawakal, rumah sempit terasa lapang. Tetapi, bagi guru yang kerap dirundung rasa keluh kesah, rumah luas pun terasa sempit.

Allah SWT berfirman, “Dialah yang telah menurunkan ketenangan (dan ketenteraman) ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada.” (QS al-Fath: 4).

Sejatinya, ketenangan hati adalah syarat kebahagiaan hidup. Jika sepanjang hidup menjalani peran guru tetapi tak bisa merasakan kebahagiaan maka guru musti merenung, mengapa kita tak merasa bahagia? Lantas, apa sebenarnya yang kita cari di dunia ini? Wallahu alam.

 

 

Oleh: Asep Sapaat

Sumber: Republika Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *